Profil dan Biografi Abdurrahman Wahid: Sosok Lucu yang Selalu di Kenang Ummat dan Indonesia

Daftar Isi

Swarariau.com, Profil dan Biografi Abdurrahman Wahid -- Abdurrahman Wahid lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah presiden Indonesia ke 4 Republik Indonesia. Dalam biografi Abdurrahman Wahid banyak disebutkan kisah-kisah yang selalu membuat orang banyak ketawa, beliau merupakan sosok yang sulit ditebak namun sering melucu.

 

...Sehingga,

 

Muncul lah sebuah kutipan yang entah siapa membuatnya,

 

Ada empat misteri Tuhan di dunia ini; yaitu jodoh, rezeki, umur, dan ….. Gus Dur!

"Unknown source"

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Biodata Lengkap K.H Abdurahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur

Biografi Abdurrahman Wahid: Biodata Lengkap K.H Abdurahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur
Biografi Abdurrahman Wahid: Biodata Lengkap K.H Abdurahman Wahid atau dikenal dengan nama Gus Dur

Selain dikenal sebagai Presiden RI ke 4, beliau juga dikenal sebagai Ulama dan Tokoh yang menghargai Pluralisme. 

 

Berikut ini Biodata lengkap Gus Dur:

 

  • Nama Lengkap: Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid
  • Nama yang Paling sering disebut: Gus Dur
  • Tempat dan Tanggal Lahir: Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940
  • Masa Jabatan Kepresidenan: 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001
  • Nama Istri: Pasangan: Sinta Nuriyah
  • Kebangsaan: Indonesia
  • Partai politik: Partai Kebangkitan Bangsa
  • Pasangan: Sinta Nuriyah
  • Nama Anak:
    Alissa Qotrunnada Wahid
    Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid
    Anita Hayatunnufus Wahid
    Inayah Wulandari Wahid
  • Nama Orang Tua:
    Ayah: Abdul Wahid Hasyim
    Ibu: Siti Sholehah

 

Itulah sebuah ungkapan yang menyindir sikap Abdurrahrnan Wahid yang sulit ditebak. 

 

...Gus Dur, 

 

Begitulah ia disapa, Sosok ini merupakan seorang politisi dan tokoh masya­rakat yang memberikan nuansa baru, bukan saja dari sudut pandang Islam, tetapi juga demokrasi.

 

"Titip aspirasi kepada orang lain saja bisa, kena­ pa kita harus membuat wadah sendiri untuk menya­ lurkan aspirasi politik," katanya setelah Nahdlatul Ulama dalam muktamarnya yang ke-27, 1984, me­ mutuskan untuk kembali ke Khittah 1926. 

 

Artinya, 


NU meninggalkan politik praktis. Namun pada hari Rabu, 20 Oktober 1999, cucu K.H. Hasyim Asy' ari, pendiri NU itu, terpilih menjadi presiden. Artinya, ia kembali ke kancah politik praktis.

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Latar Belakang Pendidikan hingga menjadi Ketua PBNU

Biografi Abdurrahman Wahid: Latar Belakang Pendidikan hingga menjadi Ketua PBNU
Biografi Abdurrahman Wahid: Latar Belakang Pendidikan hingga menjadi Ketua PBNU

Sosok yang satu ini terkenal pemikirannya yang sangat luar biasa. Jalan fikirannya memang sulit ditebak, jika ingin menyinggung seseorang maka beliau selalu menggunakan media lelucon.

 

Dalam catatan backraound pendidikannya, disebutkan bahwa Abdurrahrnan Wahid yang pernah kuliah di Universitas AI Azhar, Mesir, mulai mencuat setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU. 

 

Anak sulung dari enam bersaudara dari A. Wahid Hasyim ini sebelumnya banyak memegang jabatan sebagai penasihat tim di berbagai departemen, a.1. Departemen Koperasi, Departemen Agama, dan De­ partemen Hankam. 

 

Tokoh yang gemar mengoleksi kaset Michael Jackson dan lagu-Iagu klasik ini juga pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta pe­ riode 1984-1985. 

 

Dalam Festival Film Indonesia ta­ hun 1985 di Bandung, ia menjadi ketua dewan juri.

 

Kiprahnya di dunia politik bagi sebagian orang kadang terasa membingungkan, cenderung plin-plan, dan terlalu kompromistis. 

 

Misalnya ketika pemerin­ tah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muria, Gus Dur menentangnya. 

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Jalan pemikiran yang tak bisa di prediksi!

Biografi Abdurrahman Wahid: Jalan pemikiran yang tak bisa diprediksi!
Biografi Abdurrahman Wahid: Jalan pemikiran yang tak bisa diprediksi!

Ketika Habibie mendirikan ICMI (Ikatan Cendekia­ wan Muslim Indonesia) di akhir 1990, ia menolak bergabung. 

 

Gus Dur terkesan mengadakan perlawanan dengan mendirikan Forum Demokrasi. 

 

Tapi, pendulum politik Gus Dur mengayun lagi ke arah pemerintah pada Pemilu 1997. Walaupun bisa "ber_ gaul" dengan Megawati, saat itu, ia justru membuka jalan bagi Golkar berkampanye di depan massa NU.

 

Saat orang-orang menghujat para pelaku Orde Baru, Gus Dur justru menemui Habibie, Wiranto, dan bahkan Soeharto. Alasannya masuk akal, walau sulit dipahami sebagian orang, yaitu untuk membangun dialog dan mencairkan kebekuan.

 

Langkah kompromis Gus Dur, walau terkesan menentang arus, tak berpengaruh negatif terhadap perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikannya dalam naungan ND. Dalam Pemilu 7 Juni 1999, PKB menduduki urutan ketiga (di bawah PDIP dan Golkar) dengan meraih suara 12%. 

 

Berdasarkan hasil itu, di atas kertas PDIP dan Golkar paling berpeluang menampilkan jagonya menjadi presiden. 

 

...Tapi, 

 

Dalam Sidang Umum MPR, koalisi Poros Tengah (PAN, PPP, dan partai-partai Islam) yang dipelopori Amien Rais mengajukan Gus Dur sebagai calon presiden, yang akhirnya terpilih secara demokratis mengalahkan Megawati.

 

Gus Dur menduduki kursi presiden hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, sebelum ia di­ paksa mundur terkait dengan beberapa kontroversi. 

 

Buloggate hanyalah pemicunya saja, namun faktor utama yang menyebabkan Gus Dur kehilangan du­ kungan adalah sikapnya yang sering kontroversial.

 

Betapa pun buruk prestasinya sebagai presiden, Gus Dur tetap memiliki karakter unik yang berperan besar dalam proses demokratisasi di Indonesia. 

 

Semangatnya dalam mengkampanyekan inklusivisme, plu­ralisme dan toleransi patut diacungi jempol. Energi­ nya yang tak pernah habis untuk menjaga kebersa­ maan dalam kehidupan yang plural, layak kita catat dalam sejarah. 

 

Dan humor-humornya selalu mampu memberi inspirasi.

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Awal keterlibatan Organisasi dan Politik

Biografi Abdurrahman Wahid: Awal keterlibatan Organisasi dan Politik
Biografi Abdurrahman Wahid: Awal keterlibatan Organisasi dan Politik

Nama Abdurahman Wahid sebelumnya tidak terlalu mencolok dikalangan NU, peran beliau belum begitu diperhitungkan kala masih terdapat banyak senior pendahulunya. 

 

...Namun, 


Dengan latar belakang keluarga Wahid segera berarti ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU.

 

Anehnya, tidak langsung menerima untuk bergabung dengan NU, beliau justru memunculkan kontroversi dengan menolak permintaan untuk bergabung dengan NU. 

 

Dalam pemikiran beliau bahwa hal ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU.

 

Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. 

 

Karena mengambil pekerjaan ini, 

 

Abdurrahman Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.

 

Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. 

 

Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya.[16] Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jenderal Benny Moerdani.

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Kala Beraksi dalam Mereformasi NU

Biografi Abdurrahman Wahid: Kala Beraksi dalam Mereformasi NU
Biografi Abdurrahman Wahid: Kala Beraksi dalam Mereformasi NU

NU mulai berubah kala Gus Dur mulai aktif didalamnya. Semula, oraganisasi ini hanya dipandang sebagai Organisasi yang stagnan kemudian berubah. 

 

Setelah berdiskusi, 

 

Dewan Penasihat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU.

 

Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan kepemimpinan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan.

 

Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusionil. 

 

Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.

 

Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut.

 

Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti Quran dan Sunnah untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara.

 

Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Moment Terpilihnya sebagai ketua dan masa jabatan pertama di NU

Biografi Abdurrahman Wahid: Moment Terpilihnya sebagai ketua dan masa jabatan pertama di NU
Biografi Abdurrahman Wahid: Moment Terpilihnya sebagai ketua dan masa jabatan pertama di NU

Reformasi Wahid membuatnya sangat populer di kalangan NU. 

 

Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru NU. 

 

Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. 

 

Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut. Namun, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. 

 

Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggi NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham Chalid. 

 

Wahid sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.

 

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. 

 

Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. 

 

Pada tahun 1987, Abdurrahman Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Suharto. 

 

Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia.

 

Hal ini merenggangkan hubungan Wahid dengan pemerintah, tetapi saat itu Suharto masih mendapat dukungan politik dari NU.

 

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekuler.

 

Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim.

 

Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekuler "selamat pagi".

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru

Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru

Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik simpati Muslim untuk mendapat dukungan mereka. 

 

Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati Muslim Intelektual.

 

Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di dalamnya terdapat intelektual Muslim seperti Amien Rais dan Nurcholish Madjid sebagai anggota. 

 

Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI mendukung sektarianisme dan akan membuat Soeharto tetap kuat.

 

Pada tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. 

 

Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan umum legislatif 1992.

 

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. 

 

Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta.

 

Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. 

 

Setelah acara, 

 

Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran. 

 

Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. 

 

Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.

 

Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi

Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi
Biografi Abdurrahman Wahid: Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi

Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. 

 

Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

 

Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi. Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. 

 

Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

 

Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto. 

 

Wahid menasihati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998.

Biografi Abdurrahman Wahid
Biografi Abdurrahman Wahid

Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.

 

Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik dengan mendukung pemerintah. 

 

Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur.

 

...Pada saat yang sama, 

 

Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

 

Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melakukan reformasi dengan Megawati dan Amien, tetapi ia terkena stroke pada Januari 1998. 

 

Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang menyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 setelah penembakan enam mahasiswa di Universitas Trisakti. 

 

Pada tanggal 19 Mei 1998, 

 

Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan.

 

Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya. 

 

Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. 

 

Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.


Itulah Profil dan Biografi Lengkap Abdurrahman Wahid: Sosok Lucu yang Selalu di Kenang Ummat dan Indonesia.


Semoga artikel ini bermanfaat!